SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr. Ir. Suryahadi, DEA* (DIUNDUH TANGGAL 22-06-2016) dan http://www.anugrahfarm.com/centras_IPB.html (DIUNDUH TANGGAL 22-06-2016)
Upaya pencapaian program swasembada daging sapi selain memerlukan ketersediaan bibit/bakalan sapi, juga adanya kesiapan penyediaan pakan yang cukup dan berkelanjutan dengan mutu yang memadai serta harga murah.
Ketersediaan pakan yang belum memadai mengakibatkan terjadinya kesulitan dalam peningkatan populasi ternak sapi. Ketersediaan hijauan pakan di Indonesia merupakan tema utama yang menjadi pembatas perkembangan ternak.
Salah satu komponen pakan yang utama adalah hijauan karena hijauan merupakan bahan pakan utama (lebih dari 80 persen dari total bahan kering).
Jumlah ternak sapi pada tahun 2011 sebanyak 14,8 juta ekor dan meningkat sekitar 0,07 persen pada tahun berikutnya (Ditjennak, 2012).
Kebutuhan minimum ternak ruminansia per satuan ternak (ST) adalah 1,14 ton bahan kering/tahun maka diperkirakan jumlah hijauan pakan yang diperlukan seluruhnya pada tahun 2012 adalah 18,3 juta ton bahan kering (BK).
Jumlah tersebut tergolong sangat banyak diperkirakan untuk mendukung program swasembada daging sehingga perlu adanya program maupun upaya penyediaan pakan hijauan berkelanjutan.
Secara perkiraan potensi ketersediaan pakan sangat tinggi, baik yang berasal dari hijauan maupun limbah pertanian. Hal tersebut dimungkinkan karena didukung oleh ketersediaan sumber daya lahan tanaman pangan, perkebunan, dan kehutanan.
Jika potensi lahan yang ada dapat dimanfaatkan 50 persen saja, jumlah ternak yang dapat ditampung mencapai 29 juta satuan ternak. Hal tersebut belum termasuk padang rumput alam, yang jika diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya dengan menggunakan rumput unggul mampu meningkatkan daya tampungnya secara nyata.
Oleh karena itu, diperlukan teknologi tepat guna, yang bersifat terpadu menyangkut teknologi pengolahan, pengemasan, transportasi dan distribusi, dan mampu menangani permasalahan pakan dari hulu sampai hilir (sejak proses produksi, sampai pada penggunaannya di tingkat peternak).
Sebagai bagian dari institusi/perguruan tinggi, Pusat Studi Hewan Tropika/Center for Tropical Animal Studies (Centras) LPPM-IPB telah dan akan terus mengembangkan berbagai inovasi teknologi tepat guna dan terpadu untuk meningkatkan penyediaan pakan bermutu di Indonesia.
Centras telah menghasilkan berbagai produk, di antaranya adalah probiotik dan komplemen pakan (KP) yang telah dibuktikan mampu memberikan efek positif bagi ternak.
Selanjutnya, hasil tersebut akan dimanfaatkan lebih lanjut dalam memproduksi Hi-fer.
Kelebihan dari teknologi ini adalah: (1) dapat diproduksi oleh masyarakat (petani) secara masal; (2) mudah (secara manual dengan peralatan dan bahan tersedia di lokasi setempat); dan (3) biaya murah.
Agar inovasi teknologi tepat guna, perlu model pengembangan produk Hi-fer dengan berbasis pada pemberdayaan masyarakat oleh perguruan tinggi.
Permasalahan Pakan Ternak
Terdapat sejumlah permasalahan terkait dengan pakan ternak. Pertama, mutu pakan yang variatif (cenderung kurang) karena pakan kebanyakan merupakan limbah lignoselulolitik dengan kadar Total Digestible Nutrient (TDN) dan protein yang rendah.
Kedua, produksi pakan musiman (seasonal movement), umumnya produksi akan menurun ketika musim kemarau, yaitu pada bulan April hingga September.
Pada bulan tersebut peternak akan kesulitan mendapatkan rumput lapang atau penurunan produksi pada hijauan yang dibudidayakan sehingga produksi yang berlimpah pada musim hujan perlu diawetkan/disimpan untuk digunakan pada musim kemarau. Dengan demikian, membutuhkan teknologi penyimpanan.
Selain itu, lokasi produksi pakan tidak setumpu dengan lokasi produksi ternak. Kantong-kantong produksi ternak, khususnya sapi potong, cenderung mengarah di wilayah pinggiran perkotaan, sementara produksi hijauan umumnya banyak tersedia di daerah pedesaan.
Di samping itu, Pulau Jawa juga padat ternak, sementara produksi hijauan terbatas. Sebaliknya, terjadi produksi hijauan banyak di Pulau Sumatera, namun populasi ternaknya relatif sedikit. Hal ini membutuhkan solusi agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan berupa tersedianya teknik pengemasan dan transportasi yang tepat guna sehingga memudahkan pakan tersebut didistribusikan.
Secara ringkas kebutuhan teknologi yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah teknologi terpadu meliputi pengolahan pakan, pengawetan, pengemasan, transportasi, dan komersialisasi.
Salah satu solusi terpadu adalah teknologi produksi Hi-fer yang mampu memanfaatkan hijauan pakan dan mengolahnya menjadi lebih bernilai nutrisi dan mudah didistribusikan ke sentra ternak, dan diharapkan sekaligus mampu mengatasi
Penelitian
Centras LPPM IPB dalam dua tahun terakhir ini telah menemukan beberapa hasil yang dapat mendukung pencapaian tujuan tersebut.
Hasil-hasil penelitian terdahulu, yaitu produk probiotik unggul. Produk ini mampu meningkatkan palatabilitas ransum 16,9 persen, meningkatkan kecernaan serat 12,8 persen dan protein 17,9 persen, meningkatkan pertambahan bobot badan dari 1,17 kg/ekor/hari menjadi 1,39 kg/ekor/hari dan menurunkan emisi gas pencemaran pada feses terutama gas amonia dan H2S berkurang 8,8 persen dan 3,5 persen.
Selain itu, Centras telah mengembangkan probiotik yang mampu menekan toksisitas aflatoksin pada susu sapi perah (Solta, et al., 2013) dan mengikat aflatoxin di rumen sapi.
Selanjutnya, produk KP, yaitu bahan yang dicampurkan dengan pakan yang memberikan efek menguntungkan.
KP terdiri atas campuran asam dan garam-garam serta antioksidan dan anti jamur. KP produk CENTRAS LPPM-IPB terbukti mampu meningkatkan palatabilitas pakan fermentasi, meningkatkan daya simpan pakan, dan mempercepat proses fermentasi.
Penelitian tindak lanjut yang akan dilakukan adalah aplikasi penggunaan kedua produk tersebut (kombinasi) dalam proses fermentasi hijauan pakan ternak serta menentukan bentuk kemasan yang mudah diterapkan oleh masyarakat, serta memungkinkan untuk dikomersialkan sehingga dapat menjadi andalan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Dengan keunggulan KP tersebut, akan memudahkan proses pembuatan Hi-fer dan penggunaan probiotik akan dapat mempercepat proses pengawetan sehingga pada akhirnya biaya pengolahan, penyimpanan, dan transportasi pakan tersebut menjadi lebih mudah dan murah.
Selain itu karena menyangkut inovasi baru dalam teknologi tepat guna, akan dirumuskan model introduksi teknologi tersebut dengan sistem produksi massal oleh masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi masyarakat setempat.
Produk Inovatif-Aplikatif
Hi-fer adalah hijauan hasil fermentasi dengan menggunakan probiotik dan komplemen pakan produk penelitian Centras LPPM IPB yang berkualitas prima (palatable/sangat disukai ternak, kadar protein 10 persen, kandungan energi/TDN 55 persen), mudah dan tahan lama disimpan (daya simpan 2 bulan).
Inovasi Hi-fer merupakan teknologi tepat guna tentang cara produksi, pemanenan, pengolahan, penyimpanan, dan kiat mudah dalam transportasi dalam bentuk produk kemasan komersial.
Hi-fer dikemas dalam kantong polibag plastik kedap udara (2 layer), dengan bobot maksimum per kemasan 35 kg, sehingga mudah diangkut, didistribusikan, serta penggunaannya di tingkat peternak sangat praktis.
Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan produk hijauan pakan yang sederhana, mudah dilaksanakan, murah dalam pembiayaan (produksi), dan memiliki prospek komersial dalam skala luas. Keseluruhan paket ini dikemas dalam produk yang dikenal dengan Hi-fer, sehingga memungkinkan peternak dapat mengurangi aktivitas mengarit.
Teknologi Hi-fer+ dapat diproduksi oleh masyarakat (petani) secara massal dengan mudah (secara manual dengan peralatan dan bahan tersedia di lokasi setempat) dan biaya murah (maksimum biaya pengolahan dan pengemasan adalah 20 persen dari harga bahan baku/hijauan).
Dengan kemudahan pembuatan dan keunggulan produk ini, akan memberikan manfaat baik bagi masyarakat umum, petani/peternak, perguruan tinggi dan pemerintah sebagaimana yang dikemukakan di atas.
Hi-fer merupakan Model Pemberdayaan Masyarakat oleh Perguruan Tinggi Berbasis Inovasi Teknologi.
Model ini meliputi model tentang peran masing-masing pelaku: petani/masyarakat sebagai produsen, mitra kerja sebagai pengumpul dan institusi/perguruan tinggi sebagai inovator dan pendamping pengembangan produk.
Selain itu, model akan menyangkut tentang penyiapan kelembagaan dan komersialisasi produk sehingga dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memungkinkan untuk direplikasi di berbagai wilayah.
Keunggulan yang dimiliki teknologi Hi-fer memberikan dampak nyata bagi perkembangan peternakan khususnya dalam penyediaan pakan. Baik petani ternak maupun pelaku industri peternakan dapat merasakan manfaat teknologi ini.
Hasil uji coba yang dilakukan CENTRAS IPB, bahwa pemberian 100 persen Hi-fer mampu sebagai pengganti hijauan rumput segar.
Dengan menghasilkan pertambahan bobot badan rata-rata 1.48 kg/ekor/hari. Dengan teknologi Hi-fer peternak mudah dalam pengadaan rumput (baik di daerah sulit hijauan maupun di perkotaan. Begitu pula pengusaha industri pakan skala menengah (industri pakan hijauan) sangat terbantu oleh teknologi ini.
Keunggulan lainnya mudah dalam pemberian di lapangan (semudah pemberian konsntrat ke ternak dan terukur, dengan dosis pemberian yang tepat).
Teknologi Hi-fer diyakini tidak terlampau mengotori kandang, mampu menekan bau feses, dan mengurangi pencemaran lingkungan.
Bagi IPB Hi-Fer telah berhasil melalui serangkaian kegiatan yang dikemas dalam bentuk paket teknologi nutrisi dan pakan, dengan penerapan berbasis pada pemberdayaan masyarakat.
Manfaat ini tanggapi dengan baik oleh mitra kerja. Penerapan-penerapan teknologi tepat guna Hi-fer dan digunakan untuk pemberdayaan masyarakat telah direspons oleh masyarakat khususnya CV. Anugrah Farm, Ciampea Bogor.
Usaha sapi potong di peternakam Anugrah Farm dilakukan sistem "community development" ternak peternak-peternak sekitar usaha ternaknya, dengan mendifusikan inovasi Hi-fer.
Peternak-peternak binaan (yang sebagian besar berusia lanjut) tersebut tak perlu "ngarit", mencari rumput. Pakan Hi-fer disediakan pihak Anugrah Farm.
"Teknologi Hi-fer merupakan solusi yang diberikan IPB terhadap dinamika dan kemajuan bidang peternakan. Dengan teknologi ini, maka ke depan diharapkan para peternak mampu beternak tanpa mengarit," kata Prof. H. Djuanda, pimpinan CV. Anugrah Farm.
PENDAHULUAN
Usaha peternakan masih bergantung pada ketersediaan hijauan. Pakan yang terdapat di Indonesia masih sangat terbatas terutama dari segi hijauan. Hijauan merupakan bahan pakan utama dalam perkembangan ternak, namun ketersediaan dan kualitas hijauan di Indonesia masih tergolong rendah. Ketersediaan pakan yang belum memadai mengakibatkan terjadinya kesulitan dalam peningkatan populasi ternak sapi (Suryahadi et al., 2009). Permasalahan penyediaan pakan yang di hadapi oleh peternak adalah: 1) Mutu pakan masih rendah. 2) Produksi bersifat musiman. 3) Produksi pakan tidak setumpu dengan produksi ternak. 4) Potensi laten > potensi riil dan 5) Peternak sulit meningkatkan skala usahanya. Mutu pakan yang rendah karena pakan kebanyakan berupa limbah lignoselulolitik dengan kadar Total Digestible Nutrient (TDN) dan protein yang rendah. Produksi pakan bersifat musiman dimana umumnya produksi akan menurun ketika musim kemarau, yaitu pada bulan April hingga September. Pada bulan tersebut peternak kesulitan mendapatkan hijauan alam maupun yang dibudidayakan, sebaliknya pada musim hujan produksinya berlebih. Hal ini mendorong perlunya program pengawetan /penyimpanan.
Perlu adanya teknologi tepat guna untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi peternak. Sehingga Pusat Studi Hewan Tropika/Center for Tropical Animal Studies (Centras) LPPM-IPB telah mengembangan inovasi teknologi tepat guna dengan membuat Hi~fer+. Teknologi pakan Hi~fer+ merupakan hijauan fermentasi awetan yang mudah disimpan, didistribusikan dan mudah dalam pengagkutan. Hi-fer+ adalah hijauan hasil fermentasi dengan menggunakan Aditif Fermentasi (AF) hasil penelitian Centras LPPM IPB yang berkualitas prima (palatable/sangat disukai ternak, kadar protein ? 10%, kandungan energi/TDN ? 55%), mudah dan tahan lama disimpan (daya simpan ? 2 bulan). AF produk Centras LPPM-IPB (Suryahadi, 2013) terbukti mampu: (1) meningkatkan palatabilitas pakan fermentasi, (2) meningkatkan daya simpan pakan dan (3) mempercepat proses fermentasi.
Kelebihan dari teknologi Hi~fer+adalah: 1) dapat diproduksi oleh masyarakat (petani) secara masal, 2) mudah (secara manual dengan peralatan dan bahan tersedia di lokasi setempat) dan 3) biaya murah serta 4) meningkatkan income.
Teknologi Hijauan Hi~fer+
Hi~fer+ adalah hijauan awet hasil fermentasi dengan menggunakan Aditif Fermentasi (AF), dikemas dalam kemasan komersial, praktis untuk disimpan, diangkut, ditransportasikan, diperjual belikan dan mudah serta praktis diberikan pada ternak sehingga mampu meningkatkan produktivitas ternak. Produk Hi~fer+merupakan modifikasi dengan proses ensilling menggunakan Aditif Fermentasi (AF) ,menggunakan plastik polybag (penanganan praktis), produksi skala kecil (tanpa silo) dan stabil dikondisi aerob.
Keunggulan Hi~fer+ adalah: 1) Pemberian hijauan lebih mudah sehingga mengurangi jumlah waktu peternak untuk mencari rumput. 2) Mutu hijauan lebih stabil dalam jangka waktu panjang. 3) Mudah diangkut, disimpan dan mudah diberikan pada ternak. 4) Kandang menjadi lebih bersih. 5) Meningkatkan produktivitas ternak dan memberikan manfaat ekonomis. 6) Sumber pendapatan baru bagi petani penanam/ pengumpul rumput.
Prosedur pembuatan Hi~fer+ yaitu rumput gajah segar yang sudah dilayukan dichopper/dicacah hingga berukuran 5 cm. Setelah itu AF yang diencerkan dengan air dengan perbandingan AF : air = 1 : 9. KP yang telah diencerkan dicampur dengan sweetener dengan perbandingan AF : sweetener 40 : 60. Setelah itu sebanyak 7,5% campuran AF-sweetener dicampurkan dengan rumput gajah sampai rata dan dimasukkan kedalam kantong plastik sebanyak 35 kg. Pemberian pakan dengan Hi~fer+ mudah dan praktis serta kandang menjadi lebih bersih. Hi~fer+ cocok untuk sapi pedaging dan baik untuk sapi perah.
Manfaat/Dampak Penggunaan Teknologi Hi~fer+
1 Meningkatkan produktivitas ternak dan memberikan manfaat ekonomis (Sapi Perah)
Tabel 1 Pengaruh pemberian pakan terhadap produksi susu, kualitas susu dan performance sapi perah
No
Peubah
Satuan
Rataan
Kontrol
Hi~fer+
1
Produksi Susu
a.Produksi total 4% FCM
kg/e/h
11.27
11.48
2
Kualitas Susu
a.Kadar lemak
%
4.84
5.06
b.Kadar protein
%
3.70
3.53
c.Kadar laktosa
%
3.95
3.77
d.Kadar SNF
%
7.65
7.31
e.Kadar total solid
%
12.3
12.78
f.Densitas
g/ml
1.0277
1.0257
3
TPC
cfu/ml
6.30 x 105
1.49 x 105
4
Kondisi Ternak
a.BCS (Skor 1-5)
2.88
3.19
b.Bobot Badan
Kg
399.92
415.27
5
Ransum
a.Komposisi ransum
TDN (Total Digestible Nutrien)
%
64.65
67.15
PK (Protein Kasar)
%
13.7
13.02
LK (Lemak Kasasr)
%
3.41
5.11
SK (Serat Kasar)
%
20.9
18.38
Persentase hijauan ransum
%
47.16
60.89
b. Konsumsi
BK (Bahan Kering)
Kg
9.79
8.47
TDN
Kg
6.33
5.69
PK
Kg
1.34
1.10
LK
Kg
0.33
0.43
SK
Kg
2.05
1.56
6
Keefisienan Teknis
a. Efisiensi penggunaan pakan
%
14.16
17.32
b. Konsumsi TDN/kg susu
Kg
0.56
0.50
c. Konsumsi protein/kg susu
Kg
0.12
0.10
7
Harga dan biaya-biaya
a.Biaya ransum
Rp
32788
26755
b.Biaya pakan/kg susu
Rp/kg
3262
2702
8
Penerimaan
a.Harga susu
Rp/kg
5744
5664
b.Penerimaan
Rp/ekor/hari
58138
56045
c.IOFC (Income Over Feed Cost)
Rp/ekor/hari
25350
29290
Produksi susu 4% FCM lebih tinggi pada pakan Hi~fer+(11.48%) dibandingkan dengan kontrol/pakan dari peternak (11.27%). Kadar lemak susu lebih tinggi pada pakan Hi~fer+ ( 5.06%) dibandingkan dengan kontrol/pakan dari peternak (4.84%). Kadar lemak yang tinggi pada Hi~fer+ disebabkan oleh pemberian hijauan dalam ransum mencapai presentase tertinggi (60.89%), yang disertai pula oleh kandungan zat makanan (TDN, PK, LK, dan SK) yang mencukupi. Kadar total solid lebih tinggi pada pakan Hi~fer+ (12.78%) dibandingkan kontrol/pakan dari peternak (12.3%). Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar total solid adalah kadar lemak, protein, dan laktosa susu. Hasil perhitungan TPC selama uji coba pemberian pakan diperoleh, bahwa TPC yang lebih rendah pada Hi~fer+ (1.49 x 105 cfu/ml) dibandingkan dengan pakan dari peternak (6.30 x 105 cfu/ml). Penurunan TPC susu dengan pakan Hi~fer+ sebesar 76.35%. Bobot badan untuk pakan Hi~fer+(415.27 kg) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol/pakan dari peternak (399.92 kg). Hal ini terjadi karena pada pakan Hi~fer+mempunyai kandungan energi tinggi sehingga kondisinya stabil. Rataan BCS sapi untuk pakan Hi~fer+ (3.19) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol/pakan dari peternak (2.88). Komposisi ransum untuk TDN dan lemak kasar lebih tinggi pada pakan Hi~fer+ . Efisiensi penggunaan pakan pada kontrol/pakan dari peternak (14.16%) lebih rendah dibanding pada penggunaan ransum Hi-fer+(17.32%). Biaya ransum yang lebih mahal (Rp/ekor/hari) adalah kontrol/pakan dari peternak (Rp 32.788) dibandingkan dengan pakan Hi-fer+(Rp 26.755). Biaya pakan per kg susu lebih mahal pada kontrol/pakan dari peternak sebesar Rp 3.262/kg susu dibandingkan dengan pakan Hi-fer+adalah (Rp 2.702/kg susu).Income over feed cost pakan Hi-fer+( Rp 29.290.00) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol/pakan dari peternak (Rp 25.350.00) (Tabel 1) (CENTRAS 2014).
2 Meningkatkan produktivitas ternak dan memberikan manfaat ekonomis (Sapi Potong)
Tabel 2 Manfaat Biologis dan Ekonomis Hi~fer+pada Peternakan Sapi Potong
No
Pengamatan/peubah
Perlakuan
Kontrol (hijaun)
Hi~fer+
1
Konsumsi Hijauan, kg/ekor/hari
20
-
2
Konsumsi Hi~fer+ ,kg/ekor/hari
-
11
3
Konsumsi Konsentrat, kg
6
6
4
Pertambahan Bobot Badan, kg/ekor/hari
0.7-1.46
0.9-1.48
5
Efisiensi Penggunaan makanan (%)
7.59-15.8
9.92-16.32
6
Nilai Pertambahan bobot badan per hari, Rp
38.500-80.300
49.500-81.400
7
Biaya Pakan per Hari
21.600
22.200
8
Income over Feed Cost, Rp/hari
16.900-58.700
27.300-59.200
Jumlah pemberian hijauan dengan Hi~fer+ lebih sedikit dibandingkan dengan pemberian hijauan segar. Pertambahan bobot badan sapi yang mendapatkan Hi~fer+ lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol/hijauan. Kisaran pertambahan bobot badan sapi potong yang diberi Hi~fer+ adalah 0.9-1.48 kg/ekor/hari. Pada sapi potong yang mendapatkan pakan Hi~fer+ memberikan pertambahn bobot badan yang cukup tinggi, hal ini disebabkan kemungkinan adanya compensatory growth dari sapi percobaan. Berdasarkan konsumsi bahan kering ransum dan pertambahan bobot badan bahwa pemberian Hi~fer+ menunjukkan efisiensi yang lebih tinggi 9.92-16.32% dibanding kontrol/hijauan 7.59-15.8% dapat dilihat pada Tabel 2. Kinerja biologis ini mengakibatkan nilai ekonomis pemberian Hi~fer+ lebih tinggi dibanding dengan kontrol/hijauan. Nilai Income Over Feed Cost pemberian Hi~fer+ yaitu berkisar Rp. 27.300-59.200/ekor/hari lebih baik dibanding pemberian hijauan segar yang memberikan nilai Income Over Feed Cost Rp. 16.900-58.700/ekor/hari. Dengan demikian Hi~fer+ dapat memberikan manfaat biologis dan ekonomis yang lebih baik (CENTRAS 2013).
Sumber pendapatan baru bagi petani penanam/ pengumpul rumput
Petani di kebun karet Jasinga memanfaatkan waktu luangnya mencari rumput dan mengumpulkan ke CV Anugerah Farm dan selanjutnya diolah menjadi Hi-fer+. Rumput tersebut dibeli oleh CV Anugerah Farm sehingga memberikan pendapatan baru. Petani melalui kelompok tani ataupun mandiri menjual rumput gajah hasil penanaman kepada CV Anugerah Farm. Sistem pembelian secara cash and carry berdasarkan banyaknya rumput yang dipanen/dipotong ataupun dengan sistem borongan per luasan lahan (penyadap karet kerjasama dengan CV Anugerah di Jasinga). Hal tersebut dapat dikembangkan agar petani juga menanam rumput pada lahan-lahan marjinal/terlantar dan memberikan peluang pada petani/peternak untuk menambah jumlah ternaknya.
Peningkatan Jumlah dan Ragam Pakan Alternatif
Tabel 3 Aneka Ragam Pakan Alternatif dapat Dikembangkan dengan Teknologi Hi-fer+
No
Uraian Mutu Hifer+
Bahan Baku
Rumput gajah
Rumput gajah 93%+daun singkong 7%
Jerami padi 85%+ dedak 15%
Rumput gajah 60%+tongkol jagung40%
1
Komposisi Nutrisi (%)
Abu
9.08
9.33
17.57
8.58
Protein Kasar
10.76
10.21
9.99
8.30
Lemak Kasar
2.77
2.18
1.32
1.09
BETN
43.83
45.51
41.25
49.99
TDN
59.59
59.60
57.13
59.92
2
pH
4.09
3.73
3.84
3.89
3
Palatabilitas (konsumsi g BK/kg BBM)
0.59
0.84
1.03
1.33
4
Bakteri Asam Laktat (cfu/g)
7,5 x 109
1,3 x 1011
1,0 x 1011
7,4 x 1010
5
Aroma
silase
silase
silase
silase
6
Tekstur
Basah
Basah
Kering
Agak basah
7
Rasa
Asam
Asam
Asam
Asam
Pembuatan Hi-fer+dari bahan baku yang sudah diteliti yaitu dari bahan baku rumput gajah yang dapat menghasilkan protein kasar sebesar 10.76%. Rumput gajah 93%+daun singkong 7% dapat menghasilkan protein kasar sebesar 10.21%, jerami padi 85%+dedak 15% dapat menghasilkan protein kasar sebesar 9.99% dan rumput gajah 60%+tongkol jagung40% dapat menghasilkan protein kasar sebesar 8.30% (Tabel 3).
Tabel 4 Pakan Alternatif Potensial Lainnya yang dapat Dikembangkan dengan Teknologi Hi-fer+
Bahan pakan
Bahan kering (%)
Komposisi bahan kering (%BK)
TDN (%)
Ca (% BK)
P(% BK)
Abu
Protein kasar
Lemak kasar
Serat kasar
BETN
Limbah pasar
54.92
11.31
27.57
3.50
18.94
38.69
56.40
0.72
0.60
Limbah kopi
90.52
7.54
6.27
1.31
34.11
48.60
57.20
0.21
0.03
Jerami padi
87.5
16.90
4.15
1.47
32.50
45.00
43.20
0.41
0.29
Pucuk tebu
25.5
8.22
5.24
1.98
34.40
50.20
51.40
0.47
0.34
Jerami jagung
21.0
10.20
9.92
1.78
27.40
50.70
60.00
1.24
0.23
Azolla pinnata
4
16.2
21.4
2.7
12.7
47.00
61.10
1.0
0.9
Duckweed
5
-
36.5
4.4
12.8
43.6
-
-
-
Enceng gondok
83.34
16.46
40
3.67
15.25
31.53
44.40
1.81
0.52
Pembuatan Hi-fer+bisa berasal dari bahan baku potensial yaitu dari limbah pasar, limbah kopi, jerami padi, pucuk tebu, jerami jagung, Azolla pinnata, duckweed dan enceng gondok. Komposisi bahan kering (%BK) untuk bahan pakan potensial bisa dilihat pada Tabel 4.
Mengurangi Jumlah Waktu Peternak untuk Mencari Rumput
Teknologi Hi-fer+dapat mengurangi waktu peternak dalam mencari rumput. Peternak yang biasanya mencari rumput setiap hari, dengan adanya Hi-fer+peternak dapat mencari rumput seminggu atau dua minggu sekali. Teknologi Hi-fer+dapat memperpanjang waktu simpan hijauan dan dapat meningkatkan palatabilitas serta mempermudah peternak dalam penyediaan pakan hijauan. Terbuka peluang bagi pengelola untuk menanam rumput dan mengolahnya menjadi Hi-fer+.
Mudah Diangkut, Disimpan dan Mudah Diberikan pada Ternak
Hi-fer+dikemas dalam kantong plastik polybag plastik kedap udara (2 layer) dengan bobot maksimum per kemasan 35 kg. Seperti yang telah dilakuakan oleh Lubis 2010 yang melakukan upaya pengemasan hijauan fermentasi yang praktis dengan menggunakan plastik. Sehingga mempermudah dalam pengangkutan dan penyimpanan serta mempermudah dalam pemberian pakan kepada ternak. Hi-fer+ mudah didistribusikan dan ditransportasikan. Teknologi Hi-fer+merupakan teknologi yang praktis untuk diterapkan dalam peternakan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak.
Mutu hijauan lebih stabil dalam jangka waktu panjang
Tabel 5 Lama Fermentasi-Penyimpanan Hi-fer+
Komponen (%)
Lama Fermentasi-Penyimpanan (bulan)
1
2
3
4
Bahan Kering, %
37.46
36.36
32.48
25.29
Komposisi BK (%)
TDN
53,865
53,808
53,212
56,105
PK
6,690
8,685
9,523
8,463
LK
1,471
1,327
1,464
1,559
SK
26,891
27,460
28,654
24,661
BETN
53,164
53,665
48,779
52,821
Abu
11,783
8,863
10,399
12,496
Ca
1,247
0,864
1,701
1,239
P
0,558
0,630
0,786
0,566
GE
4097,150
4482,970
4338,194
4120,022
Mutu Hi-fer+setelah periode fermentasi (fase aerobik) diperlihatkan dalam Tabel 5. Secara umum Hi-fer+setelah dibuka dari kantong kemasan masih dapat bertahan mutunya baik secara organoleptik, warna, bau, mikrobiologis mencapai 2 hari. Hal ini lebih baik dari produk-produk silase yang dihasilkan secara konvensional. Kecenderungan Hi-fer+yang difermentasi lebih lama memiliki daya simpan pasca fermentasi (periode aerobik) lebih rendah. Namun secara keseluruhan masih baik digunakan sebagai pakan dalam waktu 2 hari setelah dibuka.
Selama proses fermentasi terjadi penurunan pH yang sangat drastis dari netral sampai suasana asam, dengan pH mencapai kurang dari 4. Berdasarkan hal ini proses fermentasi tersebut sangat efektif dan cepat dalam menurunkan pH. Penurunan pH disebabkan terbentuknya asam-asam organik terutama asam laktat. Hal inilah yang membuat Hi-fer+akan memiliki daya simpan dalam jangka lama.
G. Kandang Menjadi Lebih Bersih dan Produk Ternak Menjadi Lebih Higenis
Pemberian pakan dengan Hi-fer+memjadikan kandang tetap bersih, seperti pada kandang sapi potong dan kandang sapi perah. Di dalam kandang tidak ada sisa pakan yang tercecer dilantai kandang, sehingga mempermudah peternak dalam membersihkan kandang. Pakan Hi-fer+ dapat menurunkan TPC susu sapi perah Friesian Holstein dari 6.30 x 105 menjadi 1.49 x 105.
Sistem Pemberdayaan Masyarakat dalam Aplikasi Teknologi Hi-fer+
Agar inovasi teknologi tepat guna, maka perlu model pengembangan produk Hi-fer+, dengan berbasis pada pemberdayaan masyarakat oleh Perguruan Tinggi. Model tersebut diintroduksi kedalam sistem produksi masal oleh masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi masyarakat setempat. Melalui kemudahan pembuatan dan keunggulan produk ini, diharapkan inovasi teknologi menjadi tepat guna, berkelanjutan, akan memberikan manfaat baik bagi masyarakat umum, petani/peternak, perguruan tinggi dan pemerintah, serta mampu mengatasi berbagai permasalahan pakan.
Berkat Adanya Kemudahan Teknologi Hi-fer+dapat dilaksanakan Kemitraan usaha dalam penyediaan hijauan pakan (contoh di Jasinga) antara masyarakat umum (petani) sebagai produsen bahan baku (rumput/hijauan) dan mitra perusahaan sebagai inti/koordinator, supplier bahan baku, bahan penolong, dan juga melakukan pengolahn, pengemasan, serta distribusi/pemasaran. Perguruan Tinggi mempunyai peluang besar untuk memperbaiki teknologi proses dan juga pendampingan produksi. Pemerintah sebagai fasilitator, pemanfaatan lahan-lahan terlantar dan regulasi.
PENUTUP
Hi-fer+dapat memberikan manfaat biologis dan ekonomis bagi peternak sehingga memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan, baik petani rumput maupun peternak. Berkat adanya kemudahan teknologi Hi-fer+, maka produksi Hi-fer+memiliki peluang dapat dilaksanakan dengan kemitraan, antara masyarakat umum (petani) sebagai produsen bahan baku (rumput/hijauan) dan mitra perusahaan sebagai Inti/Koordinator, supplier bahan baku, dan bahan penolong, serta melakukan pengolahan/pengemasan, distribusi/pemasaran. Penerapan teknologi Hi-fer+ disertai dengan pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan ABGC akan memberikan peluang meningkatnya ketersediaan hijauan pakan baik dari segi jumlah, mutu maupun kontinyuitas.
DAFTAR PUSTAKA
[CENTRAS] Center of Tropical Animal Studies. 2013. Produksi Hijauan Fermentasi Hi-fer+dengan Kemasan Komersial Probiotik Unggul untuk Penyedian Pakan Berkelanjutan serta Mendukung Pencapaian Swasembada Daging. Bogor (ID): Laporan Akhir Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
[CENTRAS] Center of Tropical Animal Studies (IPTEK). 2014. Demplot Peternakan Sapi Perah. Bogor (ID): Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat.
Lubis, A.D. 2010. Peningkatan kualitas onggok-urea-zeolit hasil fermentasi dengan Aspergillus niger dengan suplementasi sulfur sebagai pakan ternak I. Laporan
Suryahadi., Muladno., S. Mulatsih, R. Hidayat. 2009. Langkah Strategis Percepatan Peningkatan Populasi Ternak Sapi. Seminar Nasional Percepatan Peningkatan Populasi Ternak Sapi di Indonesia. Bogor 19 Oktober 2009. Hasil Penelitian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Suryahadi. 2013. Penggunaan Aditif Fermentasi (AF) dalam konsentrat sapi potong. Laporan penelitian kerjasama Centras LPPM-IPB dengan CV Anugrah Farm. Bogor.
*Kepala Pusat Studi Hewan Tropika (CENTRAS) LPPM IPB